MUHARRAM DAN ‘ASYURO’

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Oleh

Arham bin Ahmad Yasin, Lc. MH.

muharram dan assyuraAlhamdulillah  kita telah melewati berbagai rangkaian ibadah di bulan Dzul Hijjah. Mulai dari puasa sunnah, takbiran, sholat ‘Idul Adha, menyembelih hewan qurban, dan ibadah haji bagi yang menunaikannya tahun ini. Setelah itu kita juga melewati pergantian tahun Hijriyah yang ke-1437 sejak hijrahnya Nabi Muhammad S.A.W. dan para Shahabat beliau dari Makkah ke Madinah. Hijrah merupakan peristiwa besar dan sangat penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah S.A.W., sebagai suatu upaya perubahan dan strategi meraih pertolongan Allah dalam memenangkan ajaran Islam di muka bumi.

Maka dari itu, pada masa kepemimpinan Umar bin Al Khatthab r.a. terjadi kesepakatan menetapkan momen hijrah ini sebagai permulaan tahun  dengan perhitungan qomariyah (bulan), sehingga disebut sebagai tahun Hijriyah. Walaupun penanggalan dengan menggunakan perhitungan qomariyah ini sudah ada sejak lama sebelumnya. Bahkan Allah S.W.T menyatakan dalam FirmanNya :

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…” (QS. At-Taubah (9): 36)

Orang-orang Arab sebelumnya sudah melakukan penanggalan dengan bulan-bulan qomariyah, dan mereka berpegang pada perhitungan bulan. Yang mana permulaan bulan ditentukan dengan melihat hilal (bulan sabit) yang baru di ufuk barat setelah terbenamnya matahari, dan bulan berjalan hingga melihat hilal yang baru berikutnya. Adapun perhitungan tahunnya didasarkan pada peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di tahun-tahun tersebut, hingga Umar Bin Al Khatthab mengumpulkan para Shahabat pada bulan Jumadil Akhir tahun 17 H dan tercapai kesepakatan untuk memilih waktu Hijrah sebagai permulaan penanggalan Islam.

            Banyak yang mengira bahwa penetapan bulan Muharram sebagai awal tahun Hijriah adalah karena peristiwa Hijrah Rasulullah S.A.W ke Madinah terjadi pada bulan itu. Perkiraan tersebut tidak tepat, karena Rasulullah S.A.W. memulai perjalanan Hijrahnya pada akhir bulan Shafar dan tiba di Madinah pada awal bulan Rabi’ul Awal atau sekitar bulan September tahun 622 Masehi[1]. Benar bahwa peristiwa hijrah dijadikan sebagai patokan untuk memulai penanggalan Hijriah, dimana tahun kejadiannya dijadikan sebagai tahun pertama dalam penanggalan hijriah. Maka kalau sekarang dikatakan sebagai tahun 1432 H, hal itu berarti telah berlalu 1432 tahun sejak peristiwa hijrahnya Rasulullah S.A.W. ke Madinah. Namun penetapan Muharram sebagai awal tahun Hijriah adalah karena alasan lain.

Adapun terkait bulan muharram sendiri, ada hal yang juga penting untuk kita fahami, yaitu tentang puasa ’Asyuro’ dan hal-hal yang terkait dengannya.

 

Sejarah Puasa ’Asyuro’

‘Asyuro’ berasal dari kata ‘asyaro, yang berarti sepuluh. Karena hal ini asalnya adalah terkait dengan suatu peristiwa besar dalam sejarah umat manusia yang terjadi di tanggal sepuluh muharram. Dihari itu Allah menyelamatkan Nabi Musa as. dan kaumnya dari kejaran Fir’aun, serta menenggelamkan Fir’aun dan tentaranya.

وعن عبد اللَّه بن عباس رضي اللَّه عنهما قال: ” قَدِمَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِيْنَةَ فَرَأَى الْيَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاء، فَقَالَ: مَا هَذَا؟ قَالُوْا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، نَجَّى اللَّهُ فِيْهِ مُوْسَى وَبَنِي إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمء، فَصَامَهُ، فَقَالَ: أَنَا أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ” .وَفِي رِوَايَةٍ: ” فَصَامَهُ مُوْسَى شُكْراً، فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ” .وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى: ” فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْماً لَهُ” . أخرجه البخاري (4/244) ح(2004) ، ومسلم (1130)، وأبو داود (2/426) (ح2444) ، وابن ماجه (1/552) ح(1734) ، والبيهقي (4/286).

          “Dari Abdullah bin ‘Abbas ra. Berkata : Rasulullah saw datang ke Madinah dan melihat orang-orang yahudi berpuasa dihari ”asyuro. Maka beliau berkata: apa ini?. Orang-orang yahudi menjawab: ”ini adalah hari yang baik, dihari itu Allah menyelamatkan Nabi Musa as dan Bani Isroil dari musuh mereka, maka Nabi Musa berpuasa dihari itu.’ Maka Rasulullah saw berkata : saya lebih berhak atas Nabi Musa dari kalian.’ Maka Rasulpun berpuasa dihari itu  dan dan memerintahkan (kaum muslimin)  untuk berpuasa ” Dan di riwayat lain ” maka Nabi Musa Berpuasa dihari itu sebagai rasa syukur, dan kita juga berpuasa” Dan di riwayat lain ”maka kita berpuasa untuk mengagungkannya” [2]

Puasa ’Asyuro ini sebenarnya sudah dilakukan sejak zaman jahiliyyah, dan Rasulullah saw pun sudah menjalankan puasa tersebut sejak di Makkah. Bahkan buasa ’Asyuro merupakan puasa yang diwajibkan bagi kaum muslimin sebelum diwajibkannya puasa ramadhan. Dan ketika hijrah ke Madinah Rasulullah juga tetap melaksanakannya. Namun setelah ada kewajiban puasa  Ramadhan, puasa ’Asyuro’ hukumnya tidak wajib lagi.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ” كَانَ عَاشُوْرَاء يُصَامُ قَبْلَ رَمَضَانَ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ، وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ”.وَفِي رِوَايَةٍ : ” كَانَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ تَصُوْمُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، وِكَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ صَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا فَرَضَ رَمَضَانَ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ” .
أخرجه البخاري (4/244) (ح2001) ، (2002) ، ومسلم (1125) ، وأبو داود (2/326) (ح2442)، والترمذي (2/118) (ح753) ، ومالك في “الموطأ” (1/299) ، وأحمد (6/29، 50، 162) ، وابن خزيمة (2080).

          Dari ‘A’isyah ra. Berkata : dulu puasa ‘Asyuro’ dilakukan sebelum puasa Ramadhan, maka ketika turun (kewajiban puasa) ramadhan, maka bagi yang mau boleh berpuasa, dan bagi yang mau boleh tidak”

Dan di riwayat lain ” sebelumnya puasa ’Asyuro’ sudah dilaksanakan orang-orang Quraisy di masa Jahiliyyah, dan Rasulullah saw juga melaksanakannya dimasa itu, dan ketika sampai Madinah rasul tetap melaksanakannya, dan memerintahkan untuk berpuasa. Dan ketika diwajibkan puasa ramadhan, beliau meninggalkan(kewajiban) puasa ’Asyuro’, maka barang siapa yang mau boleh berpuasa, dan bagi yang mau boleh tidak.[3]

وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: “كَانَ عَاشُوْرَاءُ يَصُوْمُهُ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانَ قَالَ: مَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ” .وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: ” إِنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوْا يَصُوْمُوْنَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَأَنَّ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَهُ، وَالْمُسْلِمُوْنَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ، فَلَمَّا افْتُرِضَ، قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّ عَاشُوْرَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللهِ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ” .أخرجه البخاري (4/102، 244) (ح1892) ، (2000) ، و(8/177) (ح4501)، ومسلم (1126) ، وأبو داود (2/326) (ح2443) ، وابن ماجه (1/553) (ح1737) ، والدارمي (1/448) (ح1711) ، وابن حبان (8/386) ، (ح3622) ، (3623) ، والبيهقي (4/290).

Dan dari Abdullah bin ‘Umar ra  berkata : sebelumnya puasa ’Asyuro’ dilaksanakan di masa  jahiliyyah, dan ketika turun kewajiban puasa Ramadhan, Rasulullah saw bersabda : bagi yang mau boleh berpuasa, dan bagi yang mau boleh tidak.”

Dan disatu riwayat Muslim, : “sesungguhnya orang-orang jahiliyyah berpuasa di hari ‘Asyuro’, dan Rasulullah saw juga berpuasa, termasuk kaum muslimin sebelum kewajiban puasa Ramadhan. Maka ketika diwajibkan(puasa Ramadhan), Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya ‘Asyuro’ adalah hari dari hari-hari Allah, maka bagi yang mau silahkan berpuasa, dan bagi yang mau boleh meninggalkannya”[4]

Dan banyak lagi hadits yang lain terkait masalah ini.

 

Hukum Puasa ’Asyuro’

Hukum puasa ’Asyuro’ adalah SUNNAH MUAKKADAH. Sebagaimana dalil yang telah disebut diatas. Bahkan bagi yang belum niat puasa dimalam harinya, jika hari itu belum makan apa-apa, dianjurkan untuk berpuasa. Karena secara umum untuk puasa sunnah tidak disyaratkan harus niat dulu dimalam harinya. Dan bagi yang sudah makan, juga dianjurkan untuk tidak makan disisa hari itu, termasuk mengajarkannya pada anak-anak.

وَعَنِ الرُّبَيْعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: “أَرْسَلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُوْرَاءَ إِلَى قُرَى اْلأَنْصَارِ الَّتِيْ حَوْلَ الْمَدِيْنَةِ : مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِماً فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، وَمَنْ كَانَ مُفْطِراً فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُوْمُهُ، وَنُصَوِّمُهُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ “أخرجه البخاري (4/200) (ح1960) ، ومسلم (1136) ، وأحمد (6/359) ، وابن حبان (8/385) (ح3620) ، والطبراني (24/275) (ح700) ، والبيهقي (4/288).

Dari Ar Rabi’ binti Mu’awwidz ra berkata: “Rasulullah saw mengutus dihari ‘Asyuro’ ke perkampungan orang-orang Anshor yang berada disekitar madinah, (dan bersabda): “barang siapa yang pagi hari berpuasa, hendaklah menyempurnakan puasanya. Dan barangsiapa yang tidak berpuasa, maka hendaklah ia sempurnakan (tidak makan) disisa harinya.” maka kami setelah itu berpuasa ’Asyuro’, dan mengajak anak-anak kecil kami untuk berpuasa”[5]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِيْ يَزِيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَسُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ عَاشُوْرَاء؟ فَقَالَ: ” مَا عَلِمْتُ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ يَوْماً يَطْلُبُ فَضْلَهُ عَلَى اْلأَيَّامِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ، وَلاَ شَهْراً إِلاَّ هَذَا الشَّهْرَ – يَعْنِيْ رَمَضَانَ -” .

وَفِي لَفْظٍ: ” مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلاَّ هَذَا الْيَوْمَ، يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَهَذَا الشَّهْرَ، يَعْنِي: شَهْرَ رَمَضَانَ” أخرجه البخاري (4/245) (ح2006) ، ومسلم (1132) ، والنسائي (4/204) (ح2370)، وأحمد (1/367) ، وابن خزيمة (2086)، والبيهقي في “شعب الإيمان” (3779)، وفي “السنن الكبرى” (4/286)، والطبراني (1254).

Dari Abdullah bin Abi Yazid bahwasannya beliau mendengar Ibnu Abbas ra ditanya tentang puasa ‘Asyuro’ . maka beliau berkata :”saya tidak mengetahui Rasulullah saw. Berpuasa disuatu hari mengharapkan keutamaannya atas hari-hari lain kecuali hari ini(‘Asyuro’), dan tidak pula bulan kecuali bulan ini,-yaitu ramadhan-“ dan disuatu lafadz;” saya tidak melihat Rasulullah saw lebih  mengupayakan puasa disuatu hari mengharap keutamaannya atas hari lainnya dari hari ini, yaitu hari ‘Asyuro, dan bulan ini yaitu Bulan Ramadhan’”[6]

 

Keutamaan Puasa ‘Asyuro’

Keutamaan puasa ‘Asyuro’ adalah dapat menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu.

وَعَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ ” . أخرجه مسلم (1162)، وأبو داود (2/321) (ح2425)، والترمذي (2/115) (ح749) ، وابن ماجة (1/553) (ح1738) ، وأحمد (5/308)، والبيهقي (4/286).

Dari Abu Qotadah ra. Bahwasannya Rasulullah saw bersabda : “puasa dihari ‘Asyuro’ , saya mengharapkan dari Allah swt untuk menghapuskan dosa setahun yang telah lalu”[7]

وَ لِقَوْلِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [وَ صَوْمُ عَاشُوْرَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً ] رواه مسلم

Dan Sabda Rasulullah saw : “Puasa ‘Asyuro’ menghapus dosa setahun yang lalu”[8]

Dan yang masyhur menurut para ‘Ulama’, dosa yang dihapus adalah dosa-dosa yang kecil. Adapun dosa yang besar, maka tetap harus dengan taubat secara khusus. Imam Nawawi rahimahullah berkata : ”.. menghapuskan segala dosa kecil, artinya adalah menghapuskan segala dosa kecuali dosa besar.” kemudian beliau berkata :” puasa ’Arofah menghapus dosa dua tahun, dan puasa ’Asyuro’ menghapus dosa satu tahun, dan jika aminnya( dalam sholat berjamaah) bersamaan dengan aminnya Malaikat maka akan diampuni dosanya yang telah lalu. Semua yang disebutkan tadi dapat menghapuskan dosa. Jika ada dosa-dosa kecil, maka akan menghapuskannya. Dan jika tidak ada dosa kecil maupun besar, maka akan dicatat kebaikan baginya, dan diangkat derajatnya. Dan jika ada dosa besar, namun tidak ada dosa kecil, maka kita berharap mudah-mudahan dapat memperingan dosa besar” [9]

Dan Ibnu Taimiyah berkata ;”Thoharoh, sholat, puasa Ramadhan, ’Arofah, dan ’Asyuro’ menghapus dosa-dosa kecil saja” . [10]

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إَلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ، إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ” صحيح مسلم, و الترمذي

Dari Abi Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw. Bersabda : “sholat lima waktu, antara jum’at dengan jum’at, dan ramadhan dengan ramadhan, menghapuskan dosa-dosa yang ada diantaranya, jika dosa-dosa besar dijauhi” . [11]

 

WAKTUNYA :

Puasa ‘Asyuro’ dilaksanakan pada tanggal sepuluh Muharram. Namun Rasulullah juga memerintahkan untuk berpuasa pada tanggal 9 muharramnya (puasa tasu’ah)  agar berbeda dengan Ahlul Kitab.

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “لَئَنْ بَقَيْتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُوْمَنَّ التَّاسِعَ” .
وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ: ” حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْقَابِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ، قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” أخرجه مسلم (1134) ، وأبو داود (2/327) (ح2445)، وأحمد (1/236)، وابن أبي شيبة (2/314)، (ح9381)، والطحاوي (2/78)، والطبراني (11/16)، (ح10891)، والبيهقي (4/287).

Dan dari Ibnu ‘Abbas ra berkata : ”Rasulullah saw bersabda: ”..Jika saya masih hidup tahun depan, sungguh saya akan berpuasa juga di tanggal sembilan”. Dan diriwayat lain: “ ketika Rasulullah saw berpuasa ‘Asyuro’, dan memerintahkan untuk berpuasa, Shohabat berkata : Ya Rasulullah sesungguhnya itu adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani juga! Maka Rasulullah saw bersabda :”jika tahun depan insya Allah kita puasa tanggal sembilan juga.” Maka belum sampai tahun depan Rasulullah saw sudah wafat”[12]

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ مَوْقُوْفاً عَلَيْهِ: بِلَفْظِ: “صُوْمُوْا التَّاسِعَ وَالعَاشِرَ، خَالِفُوا الْيَهُوْدَ ” أخرجه عبد الرزاق (7839) ومن طريقه: البيهقي (4/287) ، والطحاوي في “شرح معاني الآثار ” (2/78)

Dan Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dengan lafadz : ”puasalah pada tanggal sembilan dan sepuluh, berbedalah dengan yahudi!”[13]

Sedangkan Ibnul Qoyyim dan Ibnu Hajar menyatakan : bahwa puasa ‘Asyuro’ ada tiga tingkatan : yang paling sempurna adalah puasa tanggal 9, 10, dan 11 muharram, tingkatan berikutnya puasa tanggal 9 dan 10, dan tingkatan berikutnya puasa tanggal 10 saja.[14]

Para ulama menyatakan, jika ingin berpuasa di tanggal sepuluh saja tidak ada masalah, karena itu adalah waktu asalnya. Namun yang lebih afdlol adalah puasa juga sehari sebelumnya atau sesudahnya.

 

Beberapa Hal Terkait dengan ‘Asyuro                                

Ada hal-hal yang sering dikaitkan dengan Muharram atau ‘Asyuro’. Diantaranya anjuran memberikan nafkah yang lebih kepada keluarga ditanggal sepuluh Muharram ( Hari ’Asyuro’), didasarkan pada Hadits :

” مَنْ وَسَّعَ عَلَى أَهْلِهِ فِي يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ” .

Barang siapa yang memberikan keluasan (nafkah) pada keluarganya pada hari ‘Asyuro’ , maka Allah akan memberikan keluasan baginya  disepanjang tahun” [15]

Kualitas Hadits di atas banyak diperselisihkan diantara para ‘Ulama’ : ada yang menganggapnya Maudlu’ (palsu), diantaranya adalah Ibnu Taimiyah, Ibnu Al Jauzi, Al ‘Uqoili, dan Az Zarksyi. Ada pula yang mengatakan Hasan karena banyaknya yang meriwayatkannya walaupun masing-masing dengan kulaitas Dlo’if (lemah). Karena dalam disiplin ilmu hadits, hadits yang dloif jika diriwayatkan dengan banyak riwayat dan sebab kelemahannya bukan karena perowinya fasiq atau pendusta, maka kualitasnya dapat meningkat menjadi hasan lighoirih (hasan kerena faktor lain).[16]

Maka dari itu sebagian Ulama’ (Khususnya dari Madzhab Syafii) menganjurkan hal ini di hari ‘Asyuro’. Dan secara isi, memberikan keluasan nafkah kepada keluarga sesungguhnya memang merupakan hal yang disyari’atkan, sebagaimana firman Allah

Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberikan nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang terbatas rizqinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberi kelapangan setelah kesempitan.(QS. Ath Tholaq : 7)

Berdasarkan ayat tersebut, bahkan kapan saja diajurkan memberikan nafkah yang lebih jika Allah memberinya rizqi yang lebih.

Hal lain yang sering dikaitkan dengan ’Asyuro’ adalah pemberian santunan kepada anak yatim. Secara umum hal ini tidak banyak dibahas oleh Para Ulama’. Ada yang menyatakan kebiasaan ini juga didasarkan pada hadits mengenai memberikan keluasan nafkah yang telah disebut di atas, namun yang dimaksud keluarga dalam hadits tersebut adalah orang-orang yang membutuhkan, kususnya anak-anak yatim.

Sesungguhnya   hal tersebut merupakan hal/kebiasaan yang baik. Dan boleh-boleh saja mengambil momen muharram untuk melakukannya secara masal.  Menyantuni anak-anak yatim adalah hal yang sangat dinjurkan oleh Allah dan RasulNya, dan memiliki keutamaan yang sangat besar. Termasuk memberikan nafkah yang baik kepada keluarga adalah bagian dari ajaran Syari’at Islam. Namun tentunya hal ini tidak dilakukan pada bulan muharram saja. Melainkan kapan saja hendaknya kita lakukan, lebih-lebih jika memang dibutuhkan saat itu. Sesuai firman Allah swt : “ Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah ,:” Harta apa saja yang kamu infakkan hendaklah diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin dan orang yang dalam perjalanan.” Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah maha mengetahui.”(QS. Al Baqarah : 215)

            Namun ada juga fenomena yang tidak tepat yang dikaitkan dengan Muharram di Indonesia khususnya di pulau Jawa. Bulan Muharram atau dikenal dengan bulan suro (asalnya  ‘Asyuro’) senantiasa diidentikkan dengan aktifitas-aktifitas kesyirikan. Diantaranya, mencari berkah di tempat-tempat yang dianggap keramat,  tradisi ruwatan untuk tolak balak, memberikan sesaji pada tempat-tempat tertentu, memandikan benda-benda keramat untuk perlindungan, dan ritual-ritual serta mitos-mitos lain yang bermacam-macam.

“ia menyeru kepada selain Allah sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana, dan tidak pula memberi manfaat kepadanya. Itulah kesesatan yang jauh “(QS. Al Hajj: 12)

“ Katakanlah (Muhammad), “ Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki”” (QS. Yunus: 49)

Dan hal yang aneh lagi, ketika hal-hal tersebut dilakukan dengan alasan mewarisi budaya leluhur. Padahal alasan inilah yang dinyatakan oleh orang-orang  pada masa jahiliyah ,

”Dan apabila dikatakan kepada mereka :” marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Alah dan (mengikuti) Rasul”, mereka menjawab:” Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati dari nenek moyang kami”. Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak  mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk.” (QS Al Maidah :104)

 

 

 

Wallohu a’lam bish showab


[1] Shofiyur Rohman Al Mubarokfuri, Ar Rohiqil Makhtum; Madinah al Munawwaroh, Darul Wafa’, 2004 hal 157

[2] HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Al Baihaqi

[3] HR. HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Turmudzi, Malik, Ahmad, dan Ibnu Majah

[4] HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Turmudzi, dan Ibnu Majah, Ad Darimi, Ibnu Hibban, dan Al Baihaqi

[5] HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Hibban, Ath Thabrani, dan Al Baihaqi

[6] HR. Bukhari, Muslim, An Nasa’i, Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Huzaimah, Al Baihaqi, dan Ath Thabrani

[7] HR. Muslim, Abu dawud, At Turmudzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al Baihaqi

[8] HR Muslim

[9] Imam Nawawi, Majmu’ Syarhul Muhadzdzab jilid 6 hal. 382

[10] Ibnu Taimiyyah, Al Fatawal Kubro jilid 4 hal. 428

[11] HR. Muslim, dan At Turmudzi

[12] HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Ath Thohawi, Ath Thabrani, dan Al Baihaqi

[13] HR. Abdu Rozzaq, Al Baihaqi, Dan At Thohawi dengan sanad sohih

[14] Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah dalam kitabnya Zadul Ma’ad jilid 2 hal. 76 dan Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari’ jilid 4 hal. 246

[15] HR. At Tabrani dan Al Baihaqi.

[16] DR. Mahmud Thohan, Taisiir Mustholah Al Hadits: Riyadl, Maktabah Ma’arif,1985, hal 27

Comments

comments

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *